20 tahun aku menempati gubuk ini, dan banyak kenangan yang aku lewati disini. hampir setiap hari bagiku adalah hal baru yang di hadapi, setiap aku membuka mata aku bertanya dalam hati "apa yang akan aku lalui hari ini?".itu kenangan yang dulu dan telah lama juga tak terjamah ingatanku, karena mimpi yang aku hadapi sangat menutup hidup dan pikiranku, mimpi yang memaksa aku menjadi orang lain. tapi itu telah berlalu dan itu adalah pengalaman kelam yang penuh hikmah.
24/12/2011
hari sudah menjadi terang bagiku, setelah kegelapan jalanan yang kami tembus sepanjang malam, walau aku tertidur, tapi telingaku selalu bergerak mencari kata "magelang". yaitu kota kelahiranku, kota tujuan kami, kota penuh kenangan buat kami. pagi buta jam 2, kakakku yang sedang memegang kendali mobil serta "kendali" hidupku, berkata "gung, ini lalu kemana?" maklum aku dan dia sudah tidak pulang selama tiga tahun, kalau dia karena kerja tapi aku dan ibu karena tertipu akan harapan, yang membawa aku dan ibu terpenjara kelas 1 dan berdinding emas. dengan setengah sadar aku menjawab "ini sampai mana?", ternyata kami masih jauh dari "kata" yang ingin aku dengar. "semarang.." jawab kakak iparku itu, akupun juga tidak tahu kami harus kemana karena jalan yang kami lalui adalah bukan jalan yang sama dengan 3 tahun lalu. dan seperti biasa dengan insting militer dan kenakatan kakak iparku, kami pun berhasil menemukan jalan yang sering kami lewati.
setelah itupun aku tak bisa tertidur lagi, yaa sudahlah minimal 2 jam aku melewatkan waktuku dengan cara yang bosan, tanpa ada obrolan sedikitpun tercipta diantara aku dan kakakku itu. memang hubunganku dengan kakakku itu kurang "harmonis". sudah sejak awal pernikahan dengan kakak kandungku itu, kami memang sudah mempunyai perang batin. kadang aku berpikir "apa aku yang kurang menerima? atau apa memang dia tidak wajar?". banyak kekecewaan terjadi dan kurasakan terhadapnya. sungguh 3 tahun penuh perjuagan berat selain fisik maupun perasaan. dan saat aku gagal menggapai mimpiku rasa marah, menyesal dan kecewa itu menjadi pucak semuanya. seorang perwira yang tak mampu berbuat apa-apa. bahkan menolong adiknya sekalipun walau aku hanya iparnya. sungguh malu aku bertemu orang saat itu bukan karena gagal tapi malu dengan pertanyaan orang. "lalu bagaimana kakakmu?, emang dia gak isa nolong kamu?, kakakmu tu punya jalu, kenapa gak bisa?" pertanyaan-pertanyaan itu yang selalu orang lemparkan kepadaku, lalu aku harus jawab apa, jika aku katakan yang sebenarnya orang akan menilai kakakku tak berguna, jadi aku tutupi semua itu dengan menjawab "belum rejeki saya". dan kata itu pun terulang hingga 5 kali sampai sekarang. tapi ya sudahlah Tuhan sudah memberi aku jalan lain. dan aku tujuan pulang sekarang adalah "beristirahat" sejenak dari harapan kosong yang selalu aku terima.
satu setengah jam perjalanan, mataku melihat tulisan di pinggir jalan "selamat datang di kabupaten magelang", sungguh tulisan yang paling indah aku lihat waktu itu, tulisan yang ingin aku lihat sejak 3 tahun yang lalu. seketika juga kebosanan pun sirna, karena sekarang aku mendapat harapan yang pasti yaitu aku sudah dekat dengan gubukku. dalam benakku sudah terlukis jelas guratan wajah orang yang ku cintai serta teman-teman kecilku. sudah tertulis jelas apa saja yang ingin aku lakukan dengan mereka di dalam hati. mataku melongoh ke luar jendela mobil. aku matikan AC mobilku, dan membuka jendela mobilku, aku ingin menghirup udara bersih kampung halamanku, udara dingin yang menyejukkan tubuh dan jiwaku. kulihat sekitar orang berjualan makanan di pagi hari di alun-alun kota. waktu itu sudah pukul setengah lima pagi dan orang-orang pergi ke alun-alun untuk berolahraga atau sekedar menikmati kudapan pagi hari di situ. aku tersenyum karena aku memiliki banyak kenangan di kota ini dengan teman-temanku.dan bayangan indah pun mengiringi perjalananku. aku membangunkan ibuku yang tidur di kursi paling belakang, agar melihat ini. karena aku juga yakin ibu ingin sekali melihat dan sangat merindukan suasana seperti ini. "Bu, magelang.." itu kataku sambil menoleh ke ibu. dua kata singkat yang sangat membuat ibu terbangun dengan semangat. "wes, tekan tow?(sudah sampai ya?)", kata ibu. "hampir bu, sedilit meneh.. sabar", dengan tersenyum aku menjawab sambil menggoda ibu karena aku tahu ibu sangat merindukan gubuknya.
akhirnya kami sampai juga di "gubuk kecil" kami. sungguh lega kami melihat gubuk itu sampai kami masuk kedalam rumah dan miris pun tersanyat di hatiku, keceriaan pun mendadak tertunda dalam hati. melihat kondisi rumah yang 3 tahun aku tinggal, menjadi rumah kosong tak berpenghuni bagaikan rumah hantu. rumah yang dibangun dari kerja keras dan tetesan keringat bapak dan ibuku berubah menjadi rumah tak bertuan. ibu sedih melihat itu semua dan aku pun teringat dengan pertanyaan ibu yang selalu dia tanyakan kepadaku waktu di jakarta.. "gung omahe wes dadi koyo opow yow?? bapak ibumu iki bangun omah kae ora gampang, bobote catam isoh bangun koyo ngono ki wes disyukuri, aku ki getun gung sakjane gowo kowe mrene, nek mung akhire mung koyo ngene ki, awakdewe ki dudu wong sugeh,. dadi duit semono ki ilang ki yow susah..(gung rumahnya sudah kayak apa ya sekarang? bapak ibumu ini membangun rumah itu tidak mudah, kalau dipandang catam bisa membangun seperti itu sudah sangat bersyukur, aku sebenarnya menyesal bawa kamu kesini, kalau akhirnya seperti ini, kita itu bukan orang kaya, jadi kalau kehilangan uang sebanyak itu ya pasti sedih,.)".
sebuah ungkapan yang terucap dari seorang ibu yang kecewa atas anaknya, sungguh penyesalan seorang ibu yang berkorban demi anak tapi tak berbuah manis, harta benda dia tinggalkan tapi akhirnya hanya seperti ini. ibuku juga seorang manusia biasa, dan dia juga sudah terbiasa hidup penuh keprihatinan seperti ini.
sejenak aku lupa semua bayanganku tentang hal indah yang aku bayangkan di perjalanan tadi. sejenak aku lupa jika aku pulang itu untuk beristirahat, seketika rasa marah muncul karena kembali aku mendapat hal yang tidak sesuai dengan anganku. yaa sudahlah...
saat sudah didalam rumah sembari membuka pintu-pintu kamar ibu kembali berkata "tenan tow gung, rewangi koyo ngene tapi hasilmu opo? (benar kan gung, berkorban sampai kayak gini, tapi apa hasilmu?)" . aku menjawab"yow dudu salahku bu, opo sarannya wes tak lakoni kabeh, aku wes lakukan tanggung jawabku, tapi tanggung jawab dia ki ora ono kok,. (ya bukan salahku bu, semua sarannya sudah aku lakukan semua, aku sudah lakukan tanggung jawabku, tapi tanggung jawab dia gak ada kok.." yaaa... ini semua tentang mimpiku, mimpi kecilku. mimpi yang selalu aku terima dengan mudah tapi tak seindah yang dibayangkan. hidup di dunia militer adalah keseharianku, walau aku tinggal di masyarakat umum, tapi dalam rumahku itu adalah keluarga tentara. dan saat aku sampai di gubukku itu dan melihat keadaannya, semua kenangan akan kepahitan masa lalu terulang kembali. mimpi yang hampir akan hilang dan terlupa kembali muncul mengusik masa laluku. semua Tuhan telah rencanakan.
hari sudah pagi dan kamipun berhenti membersihkan rumah karena waktu sarapan, wajar kami hidup dengan disiplin. jadi saat jam makan pagi kami selalu tepat. setelah makan pagi aku dan ibuku pergi kepasar untuk membeli kebutuhan kami selama di kampung dan kebetulan banyak yang kenal dengan keluargaku. setiap orang yang bertemu kami selalu menanyakan kabar serta tidak ketinggalan bertanya "pripun mas agung? sampun ketampi? (gimana mas agung? sudah ke trima?)" sungguh pertanyaan yang selama ini membuat aku malu akan keadaanku dan ketidakberdayaan kakakku. tapi Tuhan selalu memberi jalan, dan ibupun menjawab "dereng, tapi sampun nyambut damel..(belum, tapi sekarang sudah bekerja..)". iya, sekarang aku sudah bekerja walau belum lama, dan itu semua berkat ibuku, jika ibu yang tidak "bergerak" mungkin sampai sekarang aku sudah menjadi manusia jalang yang ditinggal siapapun dan tak mau ada yang kenal denganku, hewan paling hina yang tak ada harganya pun najis jika melihatku. itulah penggambaran diriku jika kuasa Tuhan tidak menyentuhku lewat orang - orang yang membantuku. dan tak lama kemudian kami merasa cukup dengan apa yang kami beli lalu kami pulang, segera aku mandi dan berkeinginan untuk ketempat kekasihku. singkat cerita aku sampai di depan rumahnya, dibukakannya gerbang untukku. pertama aku melihatnya aku sangat bahagia melihat dia kembali dengan penuh kesetiaannya. segera aku turun dan dia mencium tanganku, sungguh penghargaan yang besar untukku jika dia seperti itu. dan aku menemui keluarganya serta melepas rinduku dengannya. dengan beban pikiran tentang keadaan rumahku, aku tetap senang bersamanya.
terimakasih Tuhan kau kirim aku seorang perempuan yang sempurna, apapun yang terjadi pada kami, aku percaya itu caramu agar kami bersatu di pelaminan, serta menjalani sisa hidup kami bersama dalam suatu ikatan suci pernikahan. Tuhan kabulkanlah doaku ini... amin..
hidup ini tak selamanya indah tapi juga tak selamanya suram, serahkanlah seluruh usahamu kepada Tuhan, biarkan Tuhan yang bekerja jika kau sudah berusaha,
Tuhan memang tidak akan membiarkan kita, tapi Tuhan tidak akan membantu kita jika kita dinilai masih bisa sendiri...
to be continued...................
Selasa, 24 Januari 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
3 komentar:
masih to be continued juga yah.. ehehehe
iya karena itu pengalaman 10 hari... hehehe
cerita yang ini bikin mataku berkaca-kaca... setiap denger cerita kesedihanmu,, bikin aku nangis.. sakitmu juga sakitku,, sedihmu juga sedihku..
jadi tetap smangat!!
i love u..
Posting Komentar