Jumat, 26 September 2014

smoke is beautiful death

"merokok mati, gak merokok juga mati" sering kita dengar ungkapan seperti itu di sekitar kita. kadang saya sendiri heran, bagaimana mungkin ungkapan itu muncul di masyarakat kita. sejenak kita lihat tentang fenomena yang lazim di masyarakat, dimana seorang perokok adalah lelaki sejati (khusunya bagi lelaki). itu juga yang membuat saya heran, jika seorang perokoknya adalah seorang wanita, lantas disebut wanita sejati??, secara sederhana jika itu benar kita selidiki bersama dan analisa bersama. mari ke TKP (tempat kejadian perokok).

Pertama kita analisa tentang unkapan "merokok mati, gak merokok juga mati". pemerintah sekarang sedang menggalakan tentang larangan merokok sampai-sampai ada majelis yang hendak mengharamkan rokok. saya malah khawatir jika itu terjadi karena saya merasa kasihan dengan para Setan, pasti antrian ke neraka jadi penuh dikarenakan para perokok membaca di pintu surga ditulis "NO SMOKING ROOM". mungkin itu kembali ke dalam diri kita masing-masing, Tuhan menyediakan kita pilihan sebenarnya untuk cara kita mati.Contoh (sebelumnya kita samakan persepsi bahwa rejeki, maut dan jodoh di tangan Tuhan) jika kita tidak mau mati secara mengenaskan di jalanan kita bisa meminimalisir kecelakaan dengan peralatan safety kita, dan berlaku disiplin di jalanan. contoh lagi gak? gak usah aja kita dah dewasa jadi bisa menguraikan apasaja yang saya maksud. kembali lagi kepada batang kecil semrawut di dalamnya yaitu Bung Rokok. dengan sedikit gambaran diatas dan mengingat tentang ungkapan tadi sebenarnya kita diminta untuk memilih bagaimana cara mati kita. sudah jelas kan. mau secara terhormat dengan senyum tipis di jenasahmu nantinya atau dengan badan tidak utuh dikarenakan amputasi yang dilakukan karena penyakit yang ditimbulkan oleh rokok yang kalian nikmati.kalau saya lebih suka dengan slogan di sebuah alat transportasi di jakarta yang berbunyi"nikmatnya sendiri, penyakitnya bagi-bagi". tentukan pilihanmu sekarang!

0 komentar:

Posting Komentar