Terkadang hidup ditantang untuk berdiri tegak menghadapi segalanya. Namun raga terlalu rapuh untuk sombong dengan kedua pijakannya. Banyak hal tak terpecahkan bahkan soal hati, siapa yang tahu akan hati kita jika diam adalah jawabnya. Terkadang cobaan datang menghampiri disaat yang tidak tepat, walau sebenarnya cobaan memang selalu tidak tepat. Tapi apa dikata Tuhan tak pernah salah, kita hanya diminta menunggu dan bersabar, apa skenario kita selanjutnya. Bagai panggung sandiwara yang kita terkadang mendapat peran yang bukan diri kita, tapi apa mau dikata, itulah peran kita.
Berada dalam suatu gelas kaca memang sangat sakit. Dunia luar begitu indah dari balik kaca, namun kita hanya disini menunggu kapan waktu kita habis.
Terkadang aku merenung dalam sepi malam, mengibaratkan hidup ini seperti sebuah pertandingan sepakbola, setiap menit segala hal bisa terjadi jika kita lengah, berebut bola demi kemenangan. Kita berada dalam satu tim, dimana satu sama lain percaya untuk sebuah kemenangan. Bertarung hingga peluh menetes habis, saat peluit dibunyikan itulah "waktu" kita habis, dan entah apakah kita meninggalkan lapangan dengan senyum atau sebuah penyesalan. Tergantung dengan apa yang kita lakukan di lapangan tadi. Seperti itulah hidup bagiku, perjuangan tak pernah henti demi sebuah kemenangan saat sebelum waktu kita habis.
Terkadang aku berpikir untuk apa aku ini, disini hanya untuk menyakiti malaikatku. Teiris hati ini saat melihatnya sedih karenaku, wajahnya semakin menua, beban hidup tak berkurang.
Aku mau menukar apa saja Tuhan untuk kebahagiaannya, berilah aku jalanMu.
Amin.
Jumat, 17 Oktober 2014
Keledai dungu
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar